Senin, 26 Desember 2016

MODEL PEMBELAJARAN AFEKTIF



TUGAS STRATEGI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
MODEL PEMBELAJARAN AFEKTIF


Model Pembelajaran yang Afektif
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2010: 51). Sedangkan menurut Joyce & Weil (1971) dalam Mulyani Sumantri, dkk (1999: 42) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Berdasarkan dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan berfungsi sebagi pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merancang dan melaksanakan proses belajar mengajar.
Menurut Wina Sanjaya (2006), ada 3 model strategi pembelajaran afektif yaitu :
1.      Model Konsiderasi, : dikembangkan oleh Mc, Paul yang menekankan bahwa model ini merupakan strategi pembelajaran yg dapat membentuk kpribadian. Salah satu implementasinya yakni mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
Implementasi model konsideransi guru dapat mengikuti tahapan pembelajaran  seperti dibawah ini :
a.       Menghadapkan siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari – hari.
b.      Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah dengan melihat bukan hanya dengan tampak, tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut.
c.       Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.
d.      Mengajak siswa untuk menganalisis respon orang lain serta membuat kategori dari setiap respon yang diberikan siswa.
e.       Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.
f.       Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari sudut pandang (interdisipliner) untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
g.      Mendorong siswa agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.

2.      Model Pengembangan Kognitif : oleh Lawrence KohlBerg, berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur . Menurut Kohlberg, moral manusia itu berkembang melalui 3 tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap, yaitu :
a.       Tingkat Prakonvensional.
Pada tingkat ini setiap individu memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat prakonvesional ini terdiri atas dua tahap, yaitu : tahap pertama  adalah Orientasi Hukum dan Kepatuhan dan tahap kedua Orientasi Instrumental Relatif.
b.      Tingkat Konvensional
Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu masyarkat. Kesadaran dalam diri anak mulai tumbuh bahwa perilaku itu harus sesuai dengan norma – norma dan aturan yang berlaku dimasyarakat. Pada tingkatan ini mempunyai 2 tahap, yaitu : keselarasan interpersonal serta tahap sistem sosial dan kata hati.

c.       Tingkat Postkonvensional
Pada tingkat ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma – norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasarkan oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai – nilai yang dimilikinya secara individu. Pada tingkatan ini juga terdiri dari dua tahap, yaitu : tahap kontrak sosial dan tahap prinsip etis yang universal.
3.      Teknik Mengklarifikasi Nilai : dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan yang dianggap proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa.
Manfaat pembelajaran Afektif Bahwa pembelajaran ini sangat perlu karena  :
a.       Mengajak siswa untuk mengklarifikasi dan mengungkap dirinya
b.      Membina, meningkatkan serta mengembangkan masalah afeksi melalui cara yang wajar dan sesuai dengan potensi diri yang bersangkutan.
c.       Membawakan dunia emosional/afeksi dalam pembelajaran serta melatih siswa untuk melakoninya sehingga dapat mengalami sendiri.
d.       Melatih dan membina perbaikan kehidupan/sosial (social and life ajustment).
e.       Membentuk dan mengembangkan sikap – sikap konstruktif positif.
f.        Menanamkan nilai/sistem nilai yang utama/esensial serta melestarikanya.
g.      Membina tata cara pemahaman (understanding) moral dan perilaku seseorang dengan kajian sistem nilai.
h.      Membina kesadaran akan : perlunya nilai/moral, kebaikan tentang sesuatu (a set of..) nilai dan mendorong keinginan untuk menganut serta melaksanakannya.
i.        Pembinaan dan pengembangan kepribadian anak (Personaliti/Ego development).
            Dari ungkapan kegunaan dan tujuan di atas jelas kiranya bagi kita terutama para guru bahwa penanaman sikap, moral dan nilai tidak boleh dilaksanakan secara verbalisme melainkan harus meresap pada diri yang bersangkutan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar