TUGAS STRATEGI BELAJAR DAN
PEMBELAJARAN
MODEL PEMBELAJARAN AFEKTIF
Model
Pembelajaran yang Afektif
Model pembelajaran
adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan
pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan
pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran,
dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2010: 51). Sedangkan menurut Joyce
& Weil (1971) dalam Mulyani Sumantri, dkk (1999: 42) model pembelajaran
adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu, dan memiliki fungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar
mengajar. Berdasarkan dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematik
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu dan berfungsi sebagi pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru
dalam merancang dan melaksanakan proses belajar mengajar.
Menurut Wina
Sanjaya (2006), ada 3 model
strategi pembelajaran afektif yaitu :
1.
Model
Konsiderasi,
: dikembangkan oleh Mc, Paul yang menekankan bahwa model ini merupakan
strategi pembelajaran yg dapat membentuk kpribadian. Salah satu implementasinya
yakni mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang
untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan
nilai yang dimilikinya.
Implementasi
model konsideransi guru dapat mengikuti tahapan pembelajaran seperti
dibawah ini :
a. Menghadapkan
siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam
kehidupan sehari – hari.
b. Menyuruh siswa
untuk menganalisis situasi masalah dengan melihat bukan hanya dengan tampak,
tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut.
c. Menyuruh siswa
untuk menuliskan tanggapannya terhadap permasalahan yang dihadapi.
d. Mengajak siswa
untuk menganalisis respon orang lain serta membuat kategori dari setiap respon
yang diberikan siswa.
e. Mendorong siswa
untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan
siswa.
f. Mengajak siswa
untuk memandang permasalahan dari sudut pandang (interdisipliner) untuk
menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nilai
yang dimilikinya.
g. Mendorong siswa
agar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya
berdasarkan pertimbangannya sendiri.
2. Model Pengembangan Kognitif : oleh Lawrence KohlBerg, berpendapat bahwa perkembangan
manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung
secara berangsur-angsur . Menurut Kohlberg, moral manusia itu berkembang
melalui 3 tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap, yaitu :
a. Tingkat
Prakonvensional.
Pada tingkat ini setiap individu
memandang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral
didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan
aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat prakonvesional ini terdiri
atas dua tahap, yaitu : tahap
pertama adalah Orientasi Hukum dan Kepatuhan dan tahap kedua Orientasi Instrumental Relatif.
b. Tingkat Konvensional
Pada tahap ini
anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu masyarkat. Kesadaran
dalam diri anak mulai tumbuh bahwa perilaku itu harus sesuai dengan norma –
norma dan aturan yang berlaku dimasyarakat. Pada tingkatan ini mempunyai 2
tahap, yaitu : keselarasan interpersonal serta tahap sistem sosial dan kata
hati.
c. Tingkat
Postkonvensional
Pada tingkat
ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma – norma
masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasarkan oleh adanya kesadaran sesuai
dengan nilai – nilai yang dimilikinya secara individu. Pada tingkatan ini juga
terdiri dari dua tahap, yaitu : tahap
kontrak sosial dan tahap prinsip etis yang universal.
3.
Teknik
Mengklarifikasi Nilai : dapat diartikan sebagai teknik pengajaran
untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap
baik dalam menghadapi suatu persoalan yang dianggap proses menganalisis nilai
yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa.
Manfaat pembelajaran Afektif Bahwa pembelajaran ini
sangat perlu karena :
a. Mengajak siswa
untuk mengklarifikasi dan mengungkap dirinya
b. Membina,
meningkatkan serta mengembangkan masalah afeksi melalui cara yang wajar dan
sesuai dengan potensi diri yang bersangkutan.
c. Membawakan
dunia emosional/afeksi dalam pembelajaran serta melatih siswa untuk melakoninya
sehingga dapat mengalami sendiri.
d. Melatih dan membina perbaikan
kehidupan/sosial (social and life ajustment).
e. Membentuk dan
mengembangkan sikap – sikap konstruktif positif.
f. Menanamkan nilai/sistem nilai yang
utama/esensial serta melestarikanya.
g. Membina tata
cara pemahaman (understanding) moral dan perilaku seseorang dengan kajian
sistem nilai.
h. Membina
kesadaran akan : perlunya nilai/moral, kebaikan tentang sesuatu (a set of..)
nilai dan mendorong keinginan untuk menganut serta melaksanakannya.
i.
Pembinaan dan pengembangan kepribadian
anak (Personaliti/Ego development).
Dari
ungkapan kegunaan dan tujuan di atas jelas kiranya bagi kita terutama para guru
bahwa penanaman sikap, moral dan nilai tidak boleh dilaksanakan secara
verbalisme melainkan harus meresap pada diri yang bersangkutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar